B.Indonesia: Puisi Kontemporer

PUISI KONTEMPORER

Puisi Kontemporer adalah puisi masa kini atau puisi terkini.
Unsur-unsur utama puisi kontemporer:
  1. Unsur bunyi, meliputi penempatan persamaan bunyi (rima) pada tempat-tempat tertentu untuk menghidupkan kesan dipadu dengan repetisi atau pengulangan-pengulangannya.
  2. Tipografi, meliputi penyusunan baris-baris puisi berisi kata atau suku kata yang disusun sesuai dengan gambar (pola tertentu).
  3. Enjabemen, meliputi pemenggalan-pemenggalan atau perpindahan baris puisi untuk menuju baris berikutnya.
  4. Kelakar (parodi), meliputi penambahan unsur hiburan ringan sebagai pelengkap penyajian puisi yang pekat dan penuh perenungan. 


Penggolongan Puisi Kontemporer
1. Puisi Mantra, yaitu puisi yang mengambil sifat-sifat mantra meliputa,
  • Mantra bukanlah sesuatu yang dihadirkan untuk dipahami melainkan sesuatu yang disajikan untuk menimbulkan akibat tertentu.
  • Mantra berfungsi sebagai penghubung manusia dengan dunia misteri.
  • Mantra mengutamakan efek atau akibat berupa kemanjuran dan kemanjuran itu terletak pada perintah.
Contoh:
MIAUWWW!

tiap kata lahir karena ada arti
apa ku dalam kuburMu ku kubur
siapa ku dalam kuburMu ku kubur
dimana ku dalam kuburMu ku kubur
mengapa ku dalam kuburMu ku kubur
bagaimana ku dalam kuburMu ku kubur
kuburmu kuburku dalam kuburMu ku kubur
bagaimana mu dalam kuburku ku kubur
mengapa mu dalam kuburku ku kubur
dimana mu dalam kuburku ku kubur
siapa mu dalam kuburku ku kubur
apa mu dalam kuburku ku kubur


sekarang rial ngerti akan arti
kucing ini tak lagi mau maki
hujatkan tanya pada diri
ia takkan miau lagi

minta di beri

miauw!

2. Puisi Mbeling, lahir dari penyair yang belum mapan kepenyairannya sehingga terkesan main-main atau semuanya meliputi,
  • Mengutamakan unsur kelakan tanpa maksud lain yang disembunyikan
  • Menyampaikan kritik sosial terutama terhadap sistem perekonomian dan pemerintahan
  • Menyampaikan ejekan kepada penyair yang bersikap sungguh-sungguh terhadap puisi

Contoh1:
TAPI

aku bawakan bunga padamu
tapi kau bilang masih

aku bawakan resahku padamu
tapi kau bilang hanya

aku bawakan darahku padamu
tapi kau bilang cuma

aku bawakan mimpiku padamu
tapi kau bilang meski

aku bawakan dukaku padamu
tapi kau bilang tapi

aku bawakan mayatku padamu
tapi kau bilang hampir

aku bawakan arwahku padamu
tapi kau bilang kalau

tanpa apa aku datang padamu
wah!


Sutardji Calzoum Bachri, O AMUK KAPAK ,1981

Contoh2:
Sajak Sikat Gigi

Seorang lupa menggosok giginya sebelum tidur
Didalamnya tidurnya bermimpi
Ada sikat gigi menggosok-gosok mulutnya supaya terbuka

Ketika ia bangun pagi hari
Sikat giginya tinggal sepotong
Sepotong yang hilang itu agaknya
Tersesat didalam mimpinya dan tidak bisa kembali
Dan ia berpendapat bahwa kejadian itu sangat berlebih-lebihan

3. Puisi Konkrit (realis), puisi yang disusun dengan mengutamakan bentuk grafis berupa tata wajah hingga menyerupai gambar tertentu.

Contoh1:
Tragedi Winka dan Sihka

kawin
           kawin
                      kawin
                                kawin
                                           kawin
                                                     ka
                                               win
                                          ka
                                    win
                                ka
                           win
                       ka
                 win
             ka
       win
 ka
      winka
               winka
                         winka
                                  sihka
                                           sihka
                                                    sihka
                                                             sih
                                                         ka
                                                    sih
                                                 ka
                                            sih
                                         ka
                                   sih
                                ka
                            sih
                        ka
                            sih
                                 sih
                                      sih
                                           sih
                                                sih
                                                     sih
                                                          ka
                                                            Ku


                               (Sutardji Calzoum Bachri, 1983)

Contoh2:
Drama Sebabak

             a  C  a  r  a  C  a
                                    o             e
                 w             w
                 o              e
                   C   o  w  o   K   a  n  d   K  e  w  e  k
                        o                                       e
                         w                               w
                                e                       o
                                   e                o
                                        e        o
                                             K
                                             a
                                             u
                           O  w  e  e  e  e  e  e  k  k

B.Indonesia : Cerpen Malam Seribu Bulan

Malam Seribu Bulan


Matahari mulai meninggi, tapi Jumadi masih bergelung di tempat tidur.Ia sangat enggan untuk bangun karena Lebaran tinggal sepuluh hari lagi,dan denyut kemeriahan orang-orang untuk menyambutnya sudah begitu terasa.
DUA hari ia kelayapan mengunjungi mal-mal, pasar-pasar tradisional, orang-orang yang berbelanja begitu menyemut. Sedangkan aku? Bah! Aku belum punya apa-apa untuk menyenangkan anak istriku. Jumadi berdegut, menelan ludah.
Pahitnya ludah karena sedang berpuasa, sepahit jalan hidup yang kini tengah ia lakoni. Karena sudah hampir setahun ini ia jadi pengangguran.Dan karena itu pula ia merasa sangat sedih. Untuk menghilangkan rasa sedih itulah, Jumadi mencoba mengalihkannya dengan tidur sepanjang hari.
Tapi baru saja ia menarik sarung untuk menutupi tubuhnya agar tidurnya lebih nyaman, pintu kamar tidurnya dibuka dengan kasar, bersamaan dengan itu terdengar pula istrinya berseru: ”Mas, bangun dong, Mas! Jalan sana, cari kerja. Jangan molor melulu. Mumpung masih ada waktu.Jangan sampai Lebaran nanti kita tidak membuat ketupat sayur. Malu Mas, maluu… sama tetangga,” sang istri ngomel panjang lebar sambil menimang-nimang anaknya yang terkecil, yang baru berusia sepuluh bulan.
Sesaat emosi Jumadi meluap.Tapi ketika ia menatap wajah istrinya yang kurus dan pucat, rasa marah itu lumer, berganti dengan rasa iba. Bahkan ia merasa berdosa, karena tak dapat menafkahi istri dan ketiga anaknya secara layak. Ia pun merasa, tuntutan istrinya itu wajar adanya. Perlahan-lahan Jumadi bangkit dari tidur.
Perlahan-lahan pula ia menggerakgerakkan tubuh untuk menghilangkan rasa pegal karena terlalu banyak tidur.Kemudian, ia melangkah ke teras depan rumah. Ia duduk di kursi bambu yang sudah reyot. Tatapannya menerawang ke depan, membentur bangunan-bangunan gedung yang kukuh dan mencakar langit.Jumadi menghela napas berat.Hatinya serasa teriris.”Ya Allah, mengapa harus ada orang yang terlalu kaya, ketika masih teramat banyak orang yang terlalu miskin?”keluhnya.
Ia menyapukan pandangannya ke sekeliling: Rumah-rumah berdempetdempet, berdinding tripleks yang koyakmoyak. Beratap tambal sulam, antara genting dan potongan-potongan seng bekas. Dikelilingi got-got mandek.Kumuh. Sedangkan di depan sana, di pinggir jalan protokol, gedung-gedung perkantoran berdiri megah. Angkuh! Tak pernah sekali pun Jumadi berhasil memasuki salah satu gedung yang mewah itu.
Pernah sekali tempo Jumadi melamar kerja di salah satu perusahaan yang berkantor di sebuah gedung yang megah itu, karena ia mendengar dari salah satu tetangganya ada lowongan. Tapi baru memasuki lantai dasar, langkahnya sudah ditahan satpam. ”Keperluan Bapak?” tanya satpam, galak. ”Melamar kerja, Pak,” jawab Jumadi sesopan mungkin. ”Di sini tak ada lowongan,”suara satpam tetap galak.
”Tapi saya dengar ada lowongan, Pak,” Jumadi menyebut nama sebuah perusahaan. Sang satpam mengangguk-angguk. ”Boleh Pak, saya menemui pimpinan perusahaan itu?” suara Jumadi penuh permohonan. ”Oh maaf Pak, hal itu tidak diperbolehkan oleh peraturan di gedung ini,” kali ini suara satpam sedikit lunak. ”Silakan lamaran Bapak tinggal di sini, dan tunggu panggilan.” Tak ada pilihan lain bagi Jumadi.
Dengan terpaksa ia menuruti kehendak sang satpam.Tapi sampai kini, setelah tiga bulan berlalu panggilan kerja itu tak kunjung tiba! Ingat akan hal itu dada Jumadi serasa sesak.Kesal. Muak! Jumadi menghentakkan kakinya ke lantai yang terbuat dari semen. Kerja! Alangkah sulit didapat.
Padahal, ia pernah kuliah di Akademi Perindustrian. Pengalaman kerja ia punya, karena ia pernah bekerja di pabrik sepatu sebagai kepala bagian produksi.Tapi hal itu rupanya bukan jaminan untuk dengan mudah kembali mendapatkan kerja.Semua pabrik dan kantor yang ia datangi untuk melamar kerja selalu menolak dengan bahasa yang sama: ”Belum ada lowongan. Karena krisis belum berakhir…’’
” Krisis! Krisis! Kapan krisis akan berakhir di negeri ini?! Jumadi menghela napas panjang. Kini rasa sesal memenuhi rongga dadanya. Menyesali sikapnya dulu yang memimpin teman-temannya berunjuk rasa menuntut kenaikan gaji.Dan karena hal itu, ia dipecat dari tempatnya bekerja. ”Selamat siang,Pak Jumadi,” sebuah suara tiba-tiba mengejutkan lamunannya. Jumadi tergagap kaget.
”Oh, Pak Ayub,” Jumadi berusaha tersenyum.”Mau ke mana,Pak, kok kelihatan rapi?” ”Ah, nggak ke mana-mana. Mau ngontrol rumah-rumah ini saja.Takut ada yang bocor.Sudah hampir Lebaran,ya?” Jumadi tersenyum kecut.Ucapan Pak Ayub itu jelas mengingatkannya: Bahwa selesai Lebaran nanti habis sudah masa kontrak rumah yang ia tempati. Itu artinya: ia harus menyediakan uang Rp750.000 jika masih ingin menempati rumah petak itu. ***
Belum lama Pak Ayub berlalu, dengan berlari-lari muncul kedua anaknya,Agus dan Budi. Dengan napas masih terengahengah, keduanya menceritakan bahwa teman- teman mereka sudah pada dibelikan baju baru,celana baru,dan sepatu baru. ”Baju Angga bagus sekali, Pak. Ada gambar Spiderman-nya. Belinya di Pasar Minggu.Budi belikan baju seperti itu ya, Pak?” kata anaknya yang kedua sambil menarik-narik lengan bajunya. Jumadi terdiam.
Dadanya serasa tertohok. Ia tak tahu jawaban apa yang harus diberikan pada anaknya, sosok kecil yang belum mengerti nasib dan penderitaan hidupnya. ”Kapan Budi dibelikan baju untuk Lebaran,Pak?” tanya anak itu lagi. ”Beli sekarang saja, Pak,” timpal Agus,anaknya yang pertama. ”Iya,Pak. Lebaran kan tinggal sebentar lagi?” sambung Budi dengan suara sedikit merengek.
”Sabar ya, Nak. Sabaarr…,” Jumadi mengelus-elus kepala kedua anaknya. ”Besok Bapak belikan. Sekarang kalian main lagi, sana!” Kedua bocah itu mengangguk puas. Lalu kembali berlari,bergabung dengan teman-temannya bermain petak umpet. *** Seminggu menjelang Lebaran, Jumadi sengaja datang ke pabrik sepatu bekas tempatnya bekerja dulu.
Hampir sembilan tahun bekerja mengabdi di pabrik sepatu itu, ia tahu persis; tunjangan hari raya selalu dibagikan seminggu menjelang Lebaran.Jumadi membuang jauhjauh rasa malu dari hatinya.Ia akan mencoba pinjam uang pada bekas rekan-rekan kerjanya, terutama pada Karjo yang dulu merupakan sahabat kentalnya. Tapi Jumadi hanya bisa gigit jari. Uang pinjaman itu tak ia dapatkan.
Menurut bekas rekan-rekan kerjanya, THR tahun ini hanya dibayar separuh dari yang biasa mereka terima, dengan alasan perusahaan merugi, akibat krisis yang masih membelenggu negeri ini. Jumadi terpekur. Wajahnya menyiratkan rasa putus asa yang dalam. Sebagai sahabat lama,Karjo merasa iba. Tapi ia hanya bisa memberi saran.
”Dulu kau pernah bilang, punya saudara sepupu yang cukup berhasil di Bogor. Karena dia punya bengkel motor dan usaha kios di pasar. Mengapa tak kau coba minta tolong padanya, Jum?” kata Karjo hati-hati, mencoba menyelami perasaan Jumadi. Jumadi mengangkat wajah, menatap sahabat lamanya itu, lekat-lekat.
”Wah,benar saranmu itu,Jo,”senyum Jumadi. Ada pijar harapan di bola matanya. ”Ya akan kucobalah, walau sesungguhnya antara aku dan dia ada sedikit perselisihan.” Karjo menyelipkan selembar uang dua puluh ribuan di telapak tangan kanan Jumadi. Dan dengan uang itu Jumadi pergi ke Bogor. Tanpa banyak basa-basi, di hadapan Respati, saudara sepupunya itu, Jumadi mengutarakan keluh kesahnya.
Tapi Respati hanya tertawa mendengar penuturan Jumadi,tawa mengejek,yang membuat Jumadi semakin merasa tertohok. ”Jum, Jum, waktu sekolah dulu kau mengejekku. Sekolah STM adalah sekolah calon kuli. Dan kau katakan pula, menelan mentah-mentah wejanganwejangan para ulama di desa kita, sama dengan percaya ilmu klenik. Sekarang hasilnya?” Respati kembali tertawa. Jumadi diam, tak bereaksi.
”Makanya, jadi orang itu jangan terlalu sombong. Usaha, ikhtiar itu wajib. Tapi, minta bantuan orang pintar itu juga perlu. Kau tahu, keberhasilan yang aku dapat sekarang ini,adalah berkat dari hasil usaha, kerja keras serta bantuan orang-orang pintar,” Respati berkhotbah panjang lebar. Jumadi masih membisu.
”Aku hanya bisa mengingatkanmu,” kata Respati pula. ”Di antara malammalam ganjil menjelang Lebaran, ada satu malam yang disebut malam lailatul kadar.Malam yang penuh rahmat,malam seribu bulan.Sekarang masih ada kesempatan. Cobalah kau berdoa di alam terbuka, lebih baik lagi di tepi pantai. Siapa tahu akan kau dapatkan rahmat malam lailatul kadar itu…” ***
Malam 27 Ramadan. Langit Jakarta rata tertutup awan hitam.Angin bertiup kencang, mengiris alam, meningkah malam. Sedangkan kilat dan halilintar saling bersahutan, sebagai pertanda hujan yang deras akan segera mengguyur bumi. Tapi hal itu tak dihiraukan Jumadi. Mengenakan peci hitam dan tasbih tergenggam di tangan kanan, ia siap keluar rumah.Diam-diam Jumadi memang telah termakan oleh saran dari Respati.
”Mau pergi ke mana Mas, malam mendung begini?” tegur istrinya. ”Mau ke tepi pantai Ancol, berdoa, menunggu datangnya rahmat malam lailatul kadar,” kata Jumadi mantap. ”Jangan mengkhayal, Mas. Malam lailatul kadar hanya diturunkan Allah bagi orang yang menjalankan ibadah puasa dan amalan-amalan sunah dengan baik selama Ramadan. Puasa saja nggak bener. Berapa kali kau batal? Tarawih juga hanya tiga kali, kok ingin dapat rahmat malam lailatul kadar!”
”Sudah, jangan berkhotbah!” suara Jumadi meninggi. Sang istri diam. Ia telah hafal tabiat suaminya, yang tak bisa dibantah kalau sudah punya kemauan. Sampai di tepi pantai, hujan turun dengan lebatnya. Halilintar saling bersahutan. Tapi Jumadi tak gentar. Dengan khusyuk, ia baca wirid sebisanya dengan hitungan tasbih yang berputar di tangan kanannya.
Setelah dirasa cukup,Jumadi menadahkan kedua belah telapak tangannya, berdoa dengan bahasa yang paling ia pahami, memohon turunnya rahmat pada Yang Mahakuasa. Entah berapa lama ia melakukan hal itu.Tubuhnya telah bergetar, menggigil tanpa ia sadari. Sampai tiba-tiba ada sebuah Xenia berhenti di dekatnya. Dengan kaca pintu sedikit terbuka, pengendara Xenia itu berteriak-teriak menegur Jumadi.Tapi Jumadi tak mendengar.
Pada panggilan kesepuluh, baru Jumadi sadar, ada orang yang menyapanya. Ia pun segera menengok menatap pengendara Xenia itu. ”Bapak sedang apa?” tanya pengendara Xenia. ”Berdoa, menunggu lailatul kadar,” sahut Jumadi. ”Kenapa Bapak melakukannya di tepi pantai saat hujan lebat begini?” ”Karena saya yakin, di tepi pantailah lailatul kadar akan turun.Dan saya ingin sekali mendapatkannya. Lebaran tinggal tiga hari lagi, sedangkan saya belum punya persiapan apa pun untuk anakanak dan istri saya.”

Lelaki pengendara Xenia itu terdiam. Rasa iba melumuri hatinya. ”Kalau begitu mari ikut ke rumah saya, Pak,” katanya kemudian. ”Mungkin saya dapat memberi sesuatu yang Bapak perlukan untuk menyambut Lebaran nanti.” Tanpa berpikir dua kali, Jumadi menuruti ajakan pengendara Xenia itu. Dan dalam hati ia bersyukur, tapi juga bertanya-tanya: ”Inikah yang disebut malam lailatul kadar itu? Malam Seribu bulan itu? Inikah…??”

B.Indonesia: Cerpen

a.     Pengertian Cerpen dan Isi Cerpen
Cerpen merupakan prosa fiksi yang menceritakan suatu peristiwa istimewa yang dialami oleh tokoh utamanya.
Cerpen berisi penyajian kisah yang singkat atau pendek dan umumnya mengenai kehidupan sehari-hari.

b.     Hal-hal yang Menari dalam Cerpen
Jadi, hal-hal yang menarik dalam cerpen berkaitan dengan bentuk, tema, dan isinya. Oleh karena itu, dapat pula dikatakan bahwa hal-hal menarik dalam cerpen dapat dilihat dari unsur intrinsiknya.

c.      Unsur Intrinsik Cerpen
Unsur intrinsic cerpen meliputi: tema, alur, sudut pandang, tokoh serta penokohan, latar, amanat, dan gaya bahasa.
1). Tema Cerpen
Tema  merupakan pokok cerita atau ide pokok yang mendasari cerita. Jadi, hal yang menarik dalam sebuah cerpen juga dapat dikaji dari temanya. Selanjutnya, alur merupakan rangkaian peristiwa dalam cerpen tersebut. Alur dapat debedakan menjadi alur maju, alur mundur, dan alur campuran.

2). Sudut Pandang Cerpen
Sudut pandang dalam cerpen berkaitan dengan cara penulis cerpen menyampaikan karyanya. Apakah ia menjadi tokoh yang masuk dalam cerpennya dan menggunakan kata ganti orang pertama atau dia menjadi pengamat diluar cerpen dengan menggunakan kata ganti orang ketiga.
3). Tokoh dan Penokohan Cerpen
Tokoh dan penokohan merupakan dua hal yang sangat menarik. Tokoh tersebut dapat bersifat baik maupun jahat. Karakter tokoh, baik ataupun jahat dapat dilukiskan dengan penokohan. Jadi, penokohan berfungsi membedakan tokoh yang satu dengan yang lainnya.

4). Latar Cerpen
Latar atau setting cerpen tidak hanya berkaitan dengan tempat dimana peristiwa dalam cerpen terjadi. Akan tetapi, juga berkaitan dengan waktu dan suasana.

5). Alur Cerpen
Alur cerpen dibedakan menjadi tiga, yaitu alur maju, alur mundur, dan alur campuran. Alur maju maksudnya, cerpen tersebut merangkaikan peristiwa demi peristiwa dari peristiwa lampau maju ke peristiwa kini. Sementara itu, alur mundur maksudnya, peristiwa disajikan dari peristiwa masa kini mundur ke peristiwa masa lampau. Alur campuran artinya menggunakan alur maju dan alur mundur.

6). Amanat Cerpen
Sebuah cerita tidak hanya bertujuan menghibur, tetapi juga membawa pesan moral. Pesan tersebut dinamakan juga amanat.

d.     Penggunaan Kalimat Langsung dan Tidak Langsung dalam Cerpen

Kalimat langsung adalah kalimat yang menirukan apa yang diujarkan orang secara cermat. Sementara, kalimat tidak langsung adalah kalimat yang melaporkan apa yang diujarkan orang.

B.Indonesia: Pokok-pokok Wawancara

Pokok-pokok Wawancara

            Wawancara sering juga disebut interview. Wawancara adalah suatu cara untuk mengumpulkan data atau informasi dengan mengajukan pertanyaan langsung kepada seseotang, informasi atau narasumber. Narasumber dapat seorang pakar atau orang yang mempunyai kewenangan dibidang tertentu. Agar kita dapat melakukan wawancara dengan baik dan terarah, wawancara harus direncanakan dan disiapkan terlebih dahulu.

Perhatikan hal-hal yang harus dilakukan sebelum mengadakan wawancara berikut ini.
1). Persiapan
            Dalam tahap persiapan yang dilakukan adalah memilih narasumber yang tepat dan dapat memberikan banyak informasi. Setelah itu, susun daftar pertanyaan. Pertanyaan harus disusun secara sistematis, berurutan dan mengarah pada tujuan yang akan dicapai.

2). Menyusun Daftar Pertanyaan
            Cara menyusun pertanyaan harus menggunakan kata tanya yang baik sesuai dengan yang akan ditanyakan. Dalam pertanyaan kita mengenal adanya 5W+1H yaitu:
·        What (apa)
·        When (kapan)
·        Where (dimana)
·        Who (siapa)
·        Why (mengapa)
·        How (bagaimana)

3). Pelaksanaan
            Dalam tahap pelaksanaan, pencari data mengajukan permintaan secara resmi kepada narasumber. Sehingga terjadi kesepakatan waktu dan tempat kalau diperlukan, narasumber diberi daftar pertanyaan yang akan diajukan. Wawancara dilaksanakan dengan sikap sopan, tertib dan gunakan bahasa Indonesia yang benar.

4). Laporan Hasil Wawancara
            Catatan yang kita peroleh merupakan bahan yang dapat dijadikan sebuah laporan. Laporan yang baik dapat menggambarkan seluruh isi wawancara. Lapotran disusun secara tertulis dan bahasa yang digunakan baik, jelas, dan teratur. Usahakan bahasa dalam laporan mudah dipahami.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan hasil wawancara:
1.     Penulis hendaknya memperhatikan kaidah-kaidah yang berlaku
2.     Penulis hendaknya tidak melakukan interpretasi yang terlalu jauh dari hasil wawancara
3.     Pilihlah data atau keterangan yang penting dan relevan dengan masalah-masalah yang telah dirumuskan

4.     Penulis hendaknya memelihara kerahasiaan dan menjaga nama baik narasumber

BIOLOGI: Kawasan Indonesia Dilihat Dari Fauna

Kawasan Indonesia Dilihat Dari Fauna

1.     Kawasan paling barat disebut oriental meliputi daerah Jawa, Bali Kalimantan.
Ciri-ciri:
a.     Memiliki mamalia yang besar-besar
b.     Banyak terdapat primata
c.      Memiliki burung yang suaranya sangat menarik tapi bulunya tidak bagus

2.     Kawasan Australia meliputi daerah Irian/Papua, Maluku, Nusa Tenggara.
Ciri-ciri:
a.     Terdapat reptile
b.     Burungnya bulunya bagus-bagus tapi suaranya tidak menarik
c.      Terdapat mamalia berkantong

3.     Wilayah peralihan yaitu, merupakan kawasan Sulawesi, NTB, NTT, Bali.
Ciri-ciri:
a.     Mamalia berukuran kecil
b.     Terdapat kera tidak berekor

c.      Burung-burung berukuran besar tetapi tidak bisa terbang

BIOLOGI: Nama Ilmiah Tumbuhan

Nama Ilmiah Tumbuhan

1.     Manggivera Indica         : Mangga
2.     Zea Mey                           : Jagung
3.     Oryza Sativa                    : Padi
4.     Soja Maxs                        : Kedelai Kuning
5.     Cordilane Truticosa       : Kedelai Hitam
6.     Ananas Squomosus       : Nanas
7.     Durio Zimbitinus            : Durian
8.     Carica Papaya                 : Pepaya
9.     Cucumis Setivus             : Mentimun
10.                         Arthocorpus Integra     : Nangka
11.                         Arthocorpus Comunis  : Sukun
12.                         Abies Balsamea             : Balsam
13.                         Persea Amercana          : Alpukat
14.                         Masa Paradisiaca          : Pisang
15.                         Masa Tatila                    : Pisang Duka
16.                         Theobrama Cacao        : Coklat
17.                         Manibut Atilisima         : Singkong
18.                         Citrus Maxima               : Jeruk Besar
19.                         Citrus Nobalis                : Jeruk Manis
20.                         Solanum Melongena    : Terong
21.                         Solanum Tuberosum    : Kentang
22.                         Capsicum Anum            : Cabe Besar
23.                         Capsicum Trutercius     : Cabe Rawit
24.                         Ipomea Aquatica           : Kangkung
25.                         Ipomea Batatas             : Ubi Jalar
26.                         Sacharum Oticanaram : Tebu
27.                         Eugina Aquatica            : Jambu Air
28.                         Calba Petandro             : Kapuk Randau
29.                         Tektona Grandis            : Jati
30.                         Ieuchim Glauca              : Petai Cina
31.                         Parkia Sreliosa               : Parai
32.                         Hisbiscus Fihacus          : Bunga
33.                         Hisbiscus Rosasinensis : Bunga Sepatu
34.                         Havea Brasichencis       : Karet Brasil
35.                         Eugina Aromatica          : Cengkeh
36.                         Phoculus Radiated        : Kacang Ijo
37.                         Phocealus Valganis       : Kacang Panjang
38.                         Gnetum Gnemon          : Melinjo
39.                         Tamarandus Indica       : Asam
40.                         Daucas Carota               : Wortel
41.                         Gycbiloba                       : Lobak
42.                         Bracia Oliovera             : Kol
43.                         Clotaria Vulgaris           : Kacang Tanah
44.                         Cocos Nucifera             : Kelapa
45.                         Vanilia Planivera          : Vanili
46.                         Zalaca Edwis                 : Salak
47.                         Anfingenon Sp              : Bunga Air Mata
48.                         Psidium Guajava          : Jambu Biji

49.                         Aloevera                        : Lidah Buaya

Materi PKN kelas XII Semester 1 BAB I

PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI TERBUKA

I. Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka

1. Hakikat dan Fungsi Ideologi

Ideologi Pancasila merupakan dasar negara yang berfungsi, baik dalam menggambarkan tujuan negara maupun dalam proses pencapaian tujuan negara. Artinya, tujuan negara yang secara material dirumuskan untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial harus mengarah kepada terwujudnya masyarakat adil, makmur, serta sejahtera dengan tetap memperhatikan bahkan merealisasikan dimensi-dimensi yang menerminkan watak dan ciri wawasan pancasila.

Dari uraian tersebut, dapat dikemukakan bahwa ideologi mempunyai beberapa fungsi sebagai berikut.

* Struktur Kognitif

* Orientasi dasar

* Norma-norma yang menjadi pedoman dan pegangan

* Bekal dan jalan bagi seseorang

* Kekuatan yang mampu memberi semangat

* Pendidikan bagi seseorang atau masyarakat

2. Pancasila sebagai Ideologi Terbuka

Dalam menjawab tantangan tersebut, Pancasila perlu tampil sebagai Ideologi Terbuka karena ketertutupan hanya membawa pada kemandegan. Keterbukaan bukan berarti mengubah nila-nilai dasar pancasila, melainkan mengeksplisitkan wawasannya secara lebih konkrit sehingga memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah baru. Ideologi tidak dipaksakan dari luar, tetapi justru terbentuk atas kesepakatan masyarakat sehingga merupakan milik masyarakat. Sebaliknya, Ideologi tertutup memutlakkan pandangan secara totaliter sehingga masyarakat tidak mungkin memilikinya.

II. Pancasila Sebagai Sumber Nilai Dan Paradigma Pembangunan

1. Pancasila sebagai Sumber Nilai

Di era Orde baru Pancasila sebagai dasar negara banyak dijadikan sebagai simbol negara dan tidak dihayati serta dilaksanakan dalam hidup berbangsa dan bernegara. Akhirnya, yang masih tersisa sebagai aset nasional dan dapat dijadikan milik bersama adalah Pembukaan UUD 1945 dengan nilai-nilai luhurnya yang menjadi satu kesatuan secara terintegratif dengan Pancasila sebagai dasar dan sumber nilai. Meletakkan kembali Pancasila seara terintegratif dengan pembukaan, dapat mendorong bengsa untuk menemukan landasan berpijak yang sama, menyelamatkan persatuan, dan kesatuan nasional yang kini sedang mengalami disintegratif. Dengan demikian, selain sebagai dasar negara, Pancasila mengandung makna sebagai ideologi nasional yang merupakan cita-cita dan tujuan negara.

2. Pengertian Pancasila sebagai Sumber Nilai

Pancasila telah menjadi istilah resmi sebagai dasar falsafah negara RepublikIndonesia, baik ditinjau dari sudut bahasa maupun dari sudut sejarah. Hal tersebut dapat dilihat secara etimologi atau secara terminologi.

Secara Etimologis

Menurut lughatnya, Pancasila berasal dari bahasaIndia, yakni bahasa Sansakerta (bahasa kasta Brahmana, sementara bahasa rakyat jelata ialah Prakerta). Menurut Muhammad Yamin, Pancasila memilik dua macam arti yaitu Panca artinya lima, Syila dengan (i) biasa (pendek) panjang artinya peraturan tingkah laku yang penting, baik, dan seronoh. Kata sila dalam bahasa Indonesia menjadi susila artinya tingkah laku baik.

Secara Terminologi

Pada 1 Juni 1945, dalam sidang Badan Persiapan Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), perkataan Pancasila artinya lima asas dasar digunakan oleh Presiden Soekarno untuk memberi nama pada lima prinsip dasar negara Indonesia yang diusulkannya. Perkataan tersebut dibisikkan oleh temannya seorang ahli bahasa yang duduk disamping Soekarno, yaitu Muhammad Yamin.

3. Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia

Pancasila sering disebut sebagai dasar falsafah negara (dasar falsafah negara) dan ideologi negara. Pancasila dipergunakan sebagai dasar untuk mengatur pemerintahan dan mengatur penyelenggaraan negara. Pengertian Pancasila sebagai dasar negara, sesuai dengan bunyi Pembukaan UUD 1945 “….., maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia dalam suatu Undang-Undang Dasar Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

4. Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia

Pancasila dalam pengertian ini sering disebut sebagai pandangan hidup, pegangan hidup, pedoman hidup, petunjuk hidup, dan jalan hidup. Dalam hal ini, Pancasila dipergunakan untuk petunjuk hidup atau perilaku dalam sehari-hari. Dengan kata lain, Pancasila dipergunakan sebagai petunjuk arah semua kegiatan atau aktifitas hidup dan kehidupan di dalam segala bidang.

5. Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan

Paradigma adalah pandangan menasar dari para ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan suatu cabang ilmu pengetahuan. Dengan demikian, paradigma sebagai alat bantu para ilmuwan dalam merumuskan tentang apa yang harus dipelajari, apa yang harus dijawab, bagaimana seharusnya dalam menjawab dan aturan-aturan yang bagaimana yang harus dilakukan. Suatu paradigma mengandung sudut pandang kerangka acuan yang harus dilakukan oleh ilmuwan yang mengikuti paradigma tersebut. Dengan suatu paradigma atau sudut pandang dan kerangka acuan tertentu, seorang ilmuwan dapat menjelaskan sekaligus menjawab suatu permasalahan dalam ilmu pengetahuan. Istilah paradigma makin lama makin berkembang tidak hanya di bidang ilmu pengetahuan, tetapi pada bidang lain, seperti bidang politik, hukum, sosial, dan ekonomi. Pradigma kemudian berkembang dalam pengertian sebagai kerangka pikir, kerangka bertindak, acuan, orientasi, sumber, tolak ukur, parameter, serta arah dan tujuan. Sesuatu dijadikan paradigma berarti sesuatu itu dijadikan sebagai kerangka, acuan, tolok ukur, parameter, arah dan tujuan dari sebuah kegiatan. Dengan demikian, paradigma menempati posisi tinggi dan paling dalam kehidupan manusia.

III. Sikap Positif Terhadap Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka

1. Nilai Positif sebagai Ideologi Terbuka

Nilai-nilai Pancasila termasuk kedalam nilai ke rohanian, tetapi nilai kerohanian yang mengikuti pentingnya nilai material dan nilai vital secara seimbang (harmonis). Hal ini dapat dibuktikan dengan susunan sila-sila dari Pancasila yang tersusun secara sistematis-hierarkis. Pancasila jika dikaji dari sudut pandang metafisika, berlandaskan pada usaha-usaha untuk menemukan kebenaran mengenai alam semesta yang lebih menekankan pemikiran murni. Dengan demikian, tinjauan metafisika terhadap Pancasila berlandaskan pada Tuhan, manusia, rakyat, dan adil sehingga nilai-nilai Pancasila memiliki sifat objektif dan terbuka.

2. Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan Pada masa Reformasi

Dengan Pancasila sebagai paradigma reformasi, gerakan reformasi harus diletakkan dalam kerangka perspektif sebagai landasan sekaligus sebagai cita-cita. Sebab tanpa suatu dasar dan tujuan yang jelas, reformasi akan mengarah pada suatu gerakan anarki, kerusuhan, disintegrasi, dan akhirnya mengarah pada kehancuran bangsa. Reformasi dengan paradigma Pancasila adalah sebagai berikut.

Refomasi yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa
Reformasi yang berperikemanusiaan yang adil dan beradab
Reformasi yang berdasarkan nilai persatuan
Reformasi yang berakar pada asas kerakyatan

Reformasi yang bertujuan pada keadilan sosial bagi seluruh rakyatIndonesia